SAYANG GINJAL

Rabu, 07 Mei 2008

Penyakit dan Gangguan pada Ginjal

EFRITIS atau peradangan ginjal, adalah salah satu penyakit ginjal yang sering ditemui. Gejala utamanya adalah tampaknya elemen seperti albumin di dalam air seni. Kondisi ini disebut albuminuria. Sel-sel darah merah dan darah putih dan serpihan granular yang kesemuanya tampak dalam pemeriksaan mikroskopik pada air seni.
Gejala ini lebih sering nampak terjadi pada masa kanak-kanak dan dewasa dibanding pada orang-orang setengah baya. Bentuk yang paling umum dijumpai dari nefritis adalah glomerulonefritis. Seringkali terjadi dalam periode 3 sampai 6 minggu setelah infeksi streptokokus.

Penderita biasanya mengeluh tentang rasa dingin, demam, sakit kepala, sakit punggung, dan udema (bengkak) pada bagian muka biasanya sekitar mata (kelopak), mual dan muntah-muntah. Sulit buang air kecil dan air seni menjadi keruh.

Prognosis biasanya dapat menyembuhkan dan penderita sembuh total. Namun pada beberapa orang gejala ini berkembang menjadi kronis. Pada keadaan ini proses kerusakan ginjal terjadi menahun dan selama itu gejalanya tidak tampak.
Akan tetapi pada akhirnya orang-orang tersebut dapat menderita uremia (darah dalam air seni.Red) dan gagal ginjal.
Nefrosis adalah suatu jenis nefritis yang ditandai dengan penurunan kondisi pembuluh-pembuluh pada ginjal. Nefrosis murni sangat jarang dijumpai. Yang lebih sering ditemui adalah yang berhubungan dengan glomerulonefritis atau penyakit-penyakit lain yang menyerang ginjal. Akan tetapi, istilah nefrosis masih digunakan bagi gejala yang ditunjukkan oleh timbulnya udema. Jumlah albumin yang berlebihan pada air seni, kolesterol yang berlebihan pada darah dan pengeluaran air seni yang relatif normal.

Nefrosklerosis atau pengerasan pembuluh arteri yang menuju ke ginjal, adalah suatu kelainan yang ditunjukkan dengan adanya albumin dalam air seni. Zat-zat tertentu serta terkadang dijumpai sel darah merah atau putih dalam darah (hematuria), terkadang disertai penyakit hipertensi. Pada intinya adalah terjadinya pengerasan dari pembuluh arteri kecil pada ginjal, disertai terjadinya pengerutan pada glomeruli dan perubahan patologis pada jaringan yang koyak atau luka.
Batu (kalkulus) ginjal dapat terbentuk dari timbunan kristal pada air seni pada ginjal atau pelvis ginjal. Seringkali batu ini tersusun atas kalsium oksalat.
Terjadinya infeksi atau buang air kecil kurang teratur dapat mempengaruhi pembentukan batu ginjal. Kadang munculnya batu ginjal terjadi di saat kadar kalsium dalam darah meninggi secara tidak normal, juga jika kelenjar paratiroid kelebihan memproduksi air seni.

Terkadang, batu tersebut dapat terbentuk ketika tingkat asam urat dalam darah terlalu tinggi, biasanya karena terlalu banyak makan daging. Terlalu banyak mengkonsumsi kalsium dan oksalat serta kurang minum sering diasosiasikan dengan pembentukan batu ginjal ini. Pada banyak kasus yang ada, penyebabnya tidak diketahui secara pasti.

Batu ginjal dapat menyebabkan peradangan infeksi, pendarahan, sakit pada saat buang air kecil, atau kencing tidak lancar. Batu yang kecil cenderung mengalir menuju kandung kemih melalui ureter, biasanya diikuti rasa sakit bagi penderitanya. Kolik, nyeri yang ‘amat sangat’ dirasakan penderita, yang disebabkan oleh batu biasanya membutuhkan satu atau lebih suntikan penahan rasa sakit. Rasa sakit dapat muncul tiba-tiba sehabis berolah raga. Ketika batu telah berada didalam kandung kemih, biasanya hanyut bersama air seni begitu saja dan rasa sakit hilang begitu saja. Jika batunya terlalu besar, maka perawatan lanjutan akan diperlukan. Baik berupa operasi atau litotripsi, yakni suatu prosedur yang mempergunakan kejutan gelombang listrik untuk memecahkan batu tersebut.

Uraemia adalah keracunan yang disebabkan oleh akumulasi zat-zat buangan tubuh yang tidak dapat diuraikan oleh ginjal. Terjadi biasanya pada tahap akhir dari penyakit ginjal kronis dan ditunjukkan oleh kelelahan, sakit kepala, rasa mual, dan sulit tidur, kejang-kejang, pingsan mendadak, dan koma. Prognosisnya kurang baik. Akan tetapi, pada tahun 1980-an, teknik dialisis atau cuci darah periodik untuk membersihkan darah dari racun, transplantasi ginjal, telah membawa harapan baru bagi penderita.

Pielonefritis adalah infeksi ginjal karena bakteri. Pielonefritis akut seringkali disertai demam, rasa dingin, pedih pada bagian yang sakit, sering buang air kecil, dan sensasi seperti terbakar saat buang air kecil. Pielonefritis kronis terjadi secara bertahap, biasanya tanpa gejala dan penyakit ini dapat mengarah pada kerusakan ginjal dan uraemia. Penyakit ini lebih umum dijumpai pada wanita dibanding pada laki-laki dan sering terjadi pada penderita diabetes.

Tumor Wilms adalah sejenis tumor ganas pada ginjal. Sering terjadi pada anak kecil. Akhir-akhir ini, suatu perawatan telah dikembangkan untuk anak-anak yang menderita kelainan ini. (net/ogi

Sumber :
www.gizi.net/gaya hidup
www.indomedia.com/metrobanjar/ - Edisi: Rabu, 25 Januari 2006

Read More.....

Minggu, 04 Mei 2008

Penyakit Ginjal Datang tanpa Gejala Khas

Minggu, 23 Maret 2008
Tes urine dan darah secara rutin bisa membantu mendeteksi sehat-tidaknya ginjal kita.
Penyakit ginjal bisa menyerang siapa saja, tak melulu orang berusia lanjut. Arief Ashari, contohnya. Pria berusia 30 tahun ini adalah penderita gagal ginjal. Dua kali seminggu ia harus menjalani cuci darah. Arief berusia 28 tahun saat terdeteksi berpenyakit ginjal. Muntah berkali-kali, lemah, dan kehilangan nafsu makan memaksanya terbaring di rumah sakit. ''Setelah melalui berbagai pemeriksaan diketahui ginjal saya tinggal 32 persen,'' kenang Arief.

Dokter, lanjut Arief, awalnya tak khawatir dan tidak merekomendasikannya untuk cuci
darah. Kondisi Arief dikatakan bisa membaik asalkan berdiet ketat, tidak capek, dan tidak stres. ''Itu karena saya masih muda dan tidak ada penyakit lain.'' Hanya saja, tuntutan pekerjaan sebagai jurnalis foto pada sebuah majalah terkemuka membuat Arief tak bisa memenuhi persyaratan tadi. Kondisi kesehatan ginjalnya pun merosot, menyisakan 17 persen bagian ginjal yang berfungsi. ''Saya sedang tak sadar saat cuci darah pertama berlangsung.''

Menyusul memburuknya kondisi kesehatannya, Arief memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai fotografer. Arief yakin faktor keturunan bukan satu-satunya hal yang membuatnya sakit ginjal. ''Kecapekan, pola makan yang tidak teratur, daya tahan tubuh yang kurang baik, serta kegemukan turut andil sebagai pencetus,'' komentar Arief yang ayahnya pernah terkena penyakit batu ginjal.

Tak hanya Arief. Kris Biantoro juga akrab dengan penyakit ginjal. Pembawa acara televisi yang berjaya di era 1980-1990-an ini telah 40 tahun menjadi pasien prehemodialisis (pre-HD). Dengan memilah makanan yang masuk ke mulutnya, Kris yang kini berusia 70 tahun dapat tampil energik dengan penyakit ginjal kronisnya. Kisah Samuel Mulia lain lagi. Penulis mode dan gaya hidup ini berpuluh tahun hidup dengan atrofi ginjal, ukuran ginjalnya kecil. ''Ternyata, ini kelainan ginjal bawaan,'' ungkapnya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Indonesia Kidney Care Club, Ahad (16/3).

Pada tahun 2005, ia sempat cuci darah selama dua bulan. Di tahun yang sama, ia ke Cina untuk melakukan transplantasi ginjal. ''Saya merasa jauh lebih sehat setelahnya,'' kata Samuel. Sebelum terdeteksi sakit ginjal, baik Arief, Kris, maupun Samuel sama-sama tak merasakan keluhan apapun. Mereka merasa sehat meski organ penting dalam tubuhnya sudah mengalami penurunan fungsi kerja. ''Penyakit ginjal memang datang tanpa gejala yang khas,'' jelas Dr dr Suhardjono SpPD-KGH KGer. Tanda kegawatan baru akan muncul saat kondisi ginjal sudah telanjur parah. Tak heran jika kebanyakan orang datang ke dokter setelah ginjalnya yang sehat tinggal 15 persen. Mereka mengeluh cepat lelah, nafsu makan turun, susah tidur, kram otot, bengkak pada pergelangan kaki, gatal dan kulit kering, dan sering berkemih di malam hari.

Lantas, bagaimana kita dapat mengetahui sehat-tidaknya ginjal? Ternyata, caranya sangat mudah. Meski begitu, tidak banyak orang yang mau menyempatkan diri melakukan pemeriksaan. ''Coba tes urine secara rutin di laboratorium,'' saran ketua umum Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Ginjal dan Hipertensi tersebut. Urin secara rinci dapat memperlihatkan kondisi ginjal. Terkait penyakit ginjal, waspadai keberadaan leukosit pada urine. Ini mencerminkan ginjal yang terinfeksi. Sedangkan, adanya protein di urine menunjukkan penurunan fungsi ginjal. ''Sebab, ginjal yang sehat mampu menyaring protein hingga tidak tampak sedikitpun pada urine,'' kata Suhardjono.

Selain urine, kadar kreatinin dalam darah juga perlu diperiksa. Kadar kreatinin bisa dilihat dari pemeriksaan darah rutin. ''Pada orang yang ginjalnya rusak, kadar kreatinin dalam darahnya akan meningkat,'' jelas dokter yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta ini. Pada kasus Kris, kreatinin memperjelas perburukan kondisi ginjalnya. Dalam darah kakek empat cucu ini pernah terpantau kreatinin yang bertengger di angka tujuh. Padahal idealnya, kreatinin -- zat buangan yang berasal dari aktivitas otot dan dibuang dari darah oleh ginjal --berada di rentang nol hingga 1,5.

Tanpa kedua pemeriksaan tersebut, mustahil meneropong kondisi ginjal. Apalagi, rasa sakit di sekitar pinggang yang banyak orang kira sebagai pertanda penyakit ginjal bukanlah indikator akurat. ''Sakit pinggang biasanya cuma persoalan musculo-skeletal, seputar otot dan tulang,'' cetus dokter yang juga praktik di RS Pelni Pertamburan, Jakarta Barat itu.

Sejumlah pemicu
Penyakit ginjal, lanjut Suhardjono, memang tak pandang bulu. Ia tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Namun, pada orang yang di keluarganya terdapat penderita batu ginjal, diabetes, stroke, dan penyakit jantung koroner, risikonya lebih tinggi. ''Orang yang pernah menjalani operasi pengangkatan batu ginjal pun berisiko terkena penyakit ginjal.''

Dulu, penyakit ini hanya akrab menghinggapi orang-orang berusia lanjut yang karena perjalanan waktu mengalami penurunan fungsi organ. Namun, seiring pola konsumsi makanan yang salah dan meningkatnya jumlah penderita diabetes, tren penderita penyakit ginjal ikut berubah. ''Belakangan, yang berusia 50 tahun makin banyak yang sudah terserang,'' ujar Suhardjono.

Penyakit ginjal datang dengan berbagai penyebab. Bisa lantaran kelainan bawaan, mungkin pula akibat konsumsi obat terlarang maupun penggunaan analgesik secara berlebihan. Di samping itu, infeksi serta komplikasi penyakit seperti diabetes, hipertensi, lupus, HIV/AIDS, hepatitis C, dan gagal jantung pun berpotensi memengaruhi kerja ginjal.

Di Indonesia, kasus penyakit ginjal umumnya disebabkan oleh komplikasi penyakit lain dan faktor usia lanjut. Tekanan darah tinggi alias hipertensi dan diabetes merupakan penyakit yang paling sering berujung pada kerusakan ginjal. ''Sebagai langkah deteksi dini, cobalah secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama cek urine dan darah,'' cetus alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. rei

Sumber: www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327654&kat_id=123&kat_id1=&kat_id2=

Read More.....

Mencegah Komplikasi Gagal Ginjal

Minggu, 23 Maret 2008

Mayoritas orang berpenyakit ginjal baru menyadari kemerosotan fungsi ginjalnya saat penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Pada saat itu, bisa jadi mereka sudah memerlukan dialisis sebagai sarana untuk memperpanjang harapan hidup serta meningkatkan kualitas hidup. Tentunya, perlu biaya yang tak sedikit untuk cuci darah secara berkelanjutan.

Meski bermanfaat besar, cuci darah juga membawa efek samping yang tidak bisa diremehkan. Komplikasi akut hemodialisis bisa berwujud hipotensi (tekanan darah rendah), sakit kepala, sakit dada, kram otot, mual dan muntah, serta sindrom disekuilibrium. ''Sindrom ini merupakan gejala sistemik dan neurologik yang terjadi akibat peningkatan kadar air secara mendadak di dalam jaringan otak,'' jelas Dr dr Suhardjono SpPD KGH, KGer.

Sementara itu, risiko kematian akan semakin besar saat pasien gagal ginjal mengalami komplikasi. Entah berupa stroke, penyakit koroner, atau infeksi. ''Putus hemodialisis juga meningkatkan risiko kematian,'' ucap Suhardjono. Dalam kondisi normal, ginjal berfungsi sebagai organ yang mengeluarkan kelebihan garam, air, dan asam dari dalam tubuh. Ginjal juga mengatur elektrolit dan membuang sisa metabolisme tubuh. Ginjal pun memiliki fungsi sebagai pengaktivasi vitamin D dan penghasil hormon.

Begitu pentingnya ginjal bagi tubuh, kesehatannya layak dijaga ketat. Sementara itu, bagi yang mereka yang telah mengalami gagal ginjal, perubahan gaya hidup harus diwujudkan. Jika tidak, komplikasi sukar untuk dihindari. ''Kalau sudah begitu, kematian bisa menjemput.''

Mencegah komplikasi gagal ginjal gampang-gampang susah untuk diterapkan. Anda perlu mengatur diet. Makanan yang mengandung protein hewani dan banyak lemak sebaiknya disingkirkan dari menu. Begitu pula garam yang dapat memperberat kerja ginjal. Olah raga ringan secara teratur juga penting. ''Jangan lupa kontrol tekanan darah, gula darah, dan diet sesuai dengan tahapan penyakitnya,'' kata penasihat Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia ini.

Idealnya, tiap pasien gagal ginjal mendapatkan transplantasi ginjal. Dengan begitu, semua masalah yang terkait dialisis, seperti pengapuran, bisa teratasi. Tetapi, ini masih 'barang mewah' di Indonesia. ''Di Amerika Serikat saja, waktu tunggunya sekitar dua tahun.'' n rei

Sumber: www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327655&kat_id=123&kat_id1=&kat_id2=

Read More.....

Kamis, 10 April 2008

Daun Sukun Sembuhkan Sakit Ginjal dan Jantung

Suara Merdeka - SUKUN merupakan tanaman yang sangat populer di masyarakat. Kepopulerannya bisa dilihat dari penggunaan nama buah ini untuk produk rokok.
Sukun termasuk dalam genus Artocarpus (famili Moraceae) yang terdiri atas 50 spesies tanaman berkayu, yang hanya tumbuh di daerah panas dan lembab di kawasan Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik.


Buahnya berbentuk bulat berkulit tebal dan kasar, dengan warna hijau muda dan kuning dengan berat sekitar 1,5 - 3 kg. Buah sukun bisa digunakan untuk bahan pangan.

Orang biasa memanfaatkannya untuk makanan ringan, semisal direbus, digoreng, atau dibuat keripik dan kolak. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai bahan baku tepung dan mi.

Tak banyak orang yang menanamnya. Selain kurang "menjual", masyarakat belum begitu tahu manfaat tanaman tersebut. Sering dijumpai orang menebang pohon tersebut di pekarangannya, dan menggantinya dengan tanaman lain seperti pisang atau mangga.

Tapi sesungguhnya sukun sangat bermanfaat. Daunnya mempunyai khasiat buat kesehatan, efektif untuk mengobati berbagai penyakit seperti liver, hepatitis, sakit gigi, gatal-gatal, pembesaran limpa, jantung, dan ginjal. Bahkan, masyarakat Ambon memanfaatkan kulit batangnya untuk obat mencairkan darah bagi wanita yang baru 8-10 hari melahirkan.

Daun tanaman tersebut mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan. Menyelamatkan Ginjal Ada juga yang menjadikan daun tersebut sebagai alternatif untuk menyelamatkan ginjal yang sakit. Caranya mudah, tapi harus telaten.

Langkah awal, siapkan tiga lembar daun yang berwarna hijau tua, namun masih menempel di dahan. Kemudian cuci bersih pada air mengalir. Selanjutnya dirajang lalu jemur sampai kering.

Siapkan pula wadah lalu isi dengan air bersih dua liter. Usahakan wadah tersebut terbuat dari gerabah tanah liat, tapi jika pun tak ada bisa juga memakai panci stainless steel. Masukkan dedaunan kering itu lalu dimasak sampai mendidih, sisakan air tersebut sampai volumenya tinggal separuh. Selanjutnya, tambahkan air bersih satu liter, dan didihkan lagi sampai separuh.

Kemudian saringlah rebusan daun sukun itu. Warna airnya merah, mirip teh. Rasanya agak pahit. Silakan diminum sampai habis, tak boleh disisakan untuk kesesokan harinya. Demikian seterusnya.

Agar tidak repot bolak-balik mengambil tiga lembar daun, sebaiknya sediakan rajangan daun sukun kering untuk seminggu. Caranya, siapkan lembar daun hijau tua sebanyak 3 x 7 = 21 lembar. Proses selanjutnya persis seperti cara di atas, sehingga kita punya sejumlah rajangan daun sukun kering, tapi dibagi-bagi menjadi tujuh bungkus. Tiap hari ambil sebungkus, rebus, saring, dan minum. Jika Anda termasuk tak tahan pahit, bisa ditambahkan sedikit madu setiap kali minum.

Jantung

Daun sukun juga bisa untuk mengobati penyakit jantung. Caranya, ambillah satu lembar daun sukun tua yang masih menempel di pohon. Daun sukun tua mempunyai kadar zat kimia maksimal.

Cucilah sampai bersih lalu dijemur hingga kering. Kemudian rebus sampai mendidih dengan lima gelas air dan sisakan sampai tinggal separuh. Tambahkan air lagi hingga mencapai volume lima gelas. Setelah disaring, rebusan air itu siap diminum dan harus habis tak bisa disisakan untuk esok hari.

Beberapa pakar obat tradisional memang meragukan khasiat daun sukun. Namun masyarakat sudah percaya dan membuktikan khasiat daun sukun yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan ginjal.

Dalam buku Koleksi Tumbuhan Obat Kebun Raya Bogor, tanaman ini tidak termuat. Satu-satunya literatur yang mengungkap efek diuretik dan kardiotonik sukun hanya buku Indian Medicinal Plants. Itu pun hanya menyangkut buahnya. Apakah bahan kimia yang dikandungnya itu berkhasiat ?

Tentu saja masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh pihak-pihak yang terkait, karena memang obat tradisional dari tanaman dipercaya walaupun awalnya hanya cerita dari mulut ke mulut. Jadi, penelitian itu amat penting bagi dunia kesehatan. (Ari-32)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/04/ragam02.htm

Read More.....

Memecahkan Batu Ginjal

9 Mei, 2007
Bagi anda yang menderita penyakit batu ginjal memang sangat menyiksa, tapi sekarang anda tak perlu khawatir karena berikut ada resep sederhana yang dapat membantu kesulitan anda.

Ambil 2 buah lobak besar yang masih segar, parut dan peraslah airnya hingga menjadi satu gelas, minumlah air lobak tersebut pagi dan sore. Niscaya serpihan batu ginjal akan keluar sendiri bersama air seni. Lakukanlah secara teratur.

Sumber: http://cuek.wordpress.com/2007/05/09/memecahkan-batu-ginjal/

Read More.....

Tempuyung Datang, Batu Ginjal Hilang

Mengusir batu ginjal dengan menggunakan tanaman obat rupanya tak bisa dikesampingkan begitu saja. Beberapa hasil penelitian laboratorium menunjukkan, banyak tanaman mampu menghancurkan atau mengikir batu dari senyawa yang biasa terbentuk dalam ginjal. Beberapa di antaranya disajikan dalam tulisan ini.

***********

Penyembuhan penyakit batu ginjal memang bisa dilakukan dengan banyak cara. Dari yang tradisional hingga yang berteknologi canggih, semua sudah bisa dipilih di negeri ini. Masing-masing cara tentu ada kelebihan dan kekurangan.
Bila dipilah-pilah, penyembuhan itu bisa dibedakan atas penyembuhan dengan obat, operasi, dan penembakan sinar laser atau gelombang kejut. Penentuan cara yang hendak dipilih sangat tergantung dari kondisi pasien. Makin berat kasus penyakit batu ginjal yang dialami pasien, makin radikal pula penyembuhannya.

Bila batu ginjal itu masih kecil sehingga bisa diusahakan untuk dikeluarkan bersama air seni, maka digunakan obat diuretik pelancar pengeluaran urine. Namun, kalau batunya sudah membesar, obat penghancur batu pun mulai diperlukan. Kalau batu ginjal itu terdiri atas garam karbonat, obat penghancurnya dipilih yang di dalam ginjal bisa menjadi asam sehingga senyawa karbonatnya hancur atau larut. Terkadang pula, dalam kasus yang disertai adanya luka, penyembuhan pasien penderita batu ginjal memerlukan obat yang di dalam urine bersifat antibakteri. Luka tersebut terjadi karena batu telah merusak ginjal yang ditandai dengan adanya darah dalam kencing.

Bila diameter batu ginjal lebih besar lagi, penyembuhan bisa dengan melakukan pemecahan batu menggunakan sinar laser atau gelombang kejut ultrasonik. Kalau upaya-upaya tadi belum membuahkan hasil, tindakan operasi pengangkatan batu biasanya dilakukan sebagai langkah akhir yang radikal. Ini pun tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah karena setelah operasi dilakukan, batu ginjal masih mungkin muncul lagi.

Berkat kalium

Di samping cara-cara medis tadi, pengusiran batu ginjal juga bisa dilakukan dengan cara alternatif, yakni menggunakan obat tradisional yang terutama terdiri atas tanaman "penghancur" batu ginjal. Memang, belum semua obat tradisional telah diuji dengan penelitian ilmiah. Kalau pun sudah diteliti, seringkali belum dilakukan secara terinci seperti yang dilakukan terhadap obat-obatan modern. Obat-obatan tradisional lebih berdasarkan pada pengalaman empiris. Meski begitu, tanaman yang dikenal sebagai peluruh batu ginjal tadi berindikasi baik dan tergolong baik dalam dosis yang ditetapkan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap khasiat tanaman dalam mengusir batu ginjal di antaranya melalui daya larut infus atau hasil proses lain terhadap kristal karbonat secara invitro dalam cawan petri. Tentu saja cara ini memiliki kelemahan, yakni belum tentu daya larutnya sama bila terjadi di dalam tubuh manusia.
Penelitian juga dilakukan menggunakan tikus. Pada hewan percobaan ini biasanya dibuat batu dalam kandung kemih. Pembuatan batu dalam ginjal tikus belum dapat dilakukan. Hasilnya, beberapa tanaman dapat menghancurkan atau mencegah pembentukan batu dalam kandung kemih. Ini pun belum tentu berlaku bagi manusia. Lagi pula yang diuji berupa batu dalam kandung kemih, bukan batu ginjal.
Beberapa tanaman yang telah diteliti tadi di antaranya tempuyung, srigunggu, sambang getih, gempur watu, dan keji beling IV. Dari sekian jenis tanaman tersebut tempuyung merupakan yang terpopuler. Bahkan, tanaman ini telah diolah dalam skala industri sebagai obat penghancur batu ginjal.

Tempuyung (Sonchus arvensis L) termasuk tanaman terna menahun yang biasanya tumbuh di tempat-tempat yang ternaungi. Daunnya hijau licin dengan sedikit ungu, tepinya berombak, dan bergigi tidak beraturan. Di dekat pangkal batang, daun bergigi itu terpusar membentuk roset dan yang terletak di sebelah atas memeluk batang berselang seling. Daun berombak memeluk batang inilah yang berkhasiat menghancurkan batu ginjal.
Di dalam daun tersebut terkandung kalium berkadar cukup tinggi. Kehadiran kalium dari daun tempuyung inilah yang membuat batu ginjal berupa kalsium karbonat tercerai berai, karena kalium akan menyingkirkan kalsium untuk bergabung dengan senyawa karbonat, oksalat, atau urat yang merupakan pembentuk batu ginjal. Endapan batu ginjal itu akhirnya larut dan hanyut keluar bersama urine.
Untuk menggunakannya sebagai obat diperlukan lima lembar daun tempuyung segar. Setelah dicuci bersih, daun diasapkan sebentar. Daun tersebut dimakan sekali habis sebagai lalap bersama nasi. Dalam sehari kita bisa memakan lalap itu sebanyak tiga kali.

Cara lainnya, 500 mg daun tempuyung kering diseduh dengan air satu gelas minum seperti membuat teh. Air seduhan inilah yang diminum sebagai obat. Dalam sehari kita bisa meminumnya sebanyak tiga kali, sampai batu ginjal hilang.
Penelitian tanaman ini dilakukan oleh almarhum Prof. Dr. Sarjito dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dalam penelitian itu dia merendam batu ginjal seseorang dalam rebusan daun tempuyung pada suhu kamar dan pada suhu 37oC. Bahan percobaan tadi ada yang digoyang seperti gerakan tubuh manusia, ada pula yang tidak. Setelah itu batu ditimbang dan kalsium dalam larutan diukur secara kimia. Hasilnya, semua batu ginjal berkurang bobotnya.

Sarjito juga meneliti daya penghancuran batu ginjal manusia dengan melakukan pemeriksaan kristal dalam air seni dan dengan menggunakan sinar rontgen. Hasilnya, diketahui tanaman tempuyung dapat menghancurkan batu ginjal. Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui senyawa yang melarutkan atau menghancurkan batu ginjal.

Hancurkan batu, relaksasi otot


Tanaman lain yang sudah cukup banyak diteliti khasiatnya dalam menyingkirkan batu ginjal adalah srigunggu (Clerodendron serratum Speng). Tanaman perdu tegak yang tingginya 1 - 3 m ini cukup dikenal di seluruh P. Jawa. Ia tumbuh dari daerah pesisir hingga pada ketinggian 1.700 m di atas permukaan laut.

Berdasarkan penelitian Adjirni, dkk. (1996) tanaman ini terbukti memiliki daya penghancur batu kandung kemih pada tikus. Sedangkan Suyati Woro Indiyah (1983) membuktikan kemampuan srigunggu dalam merelaksasi otot polos usus. Sifat otot ini sama dengan yang terdapat pada saluran kemih. Lenturnya otot saluran kemih akan membantu jalannya batu keluar. Syaratnya, batu itu masih kecil. Penelitian Yun Astuti dan Adjirni Sa'roni juga membuktikan infus srigunggu dapat menghancurkan batu kemih buatan, meskipun tidak ditemukan adanya efek diuretik pada tikus putih.

Srigunggu yang memiliki kadar kalium tinggi, ternyata juga mengandung senyawa flavonoid. Dari 100 g abu daunnya ditemukan 382 mg kalium. Bisa jadi, kandungan kalium yang tinggi inilah yang membuatnya mampu menyingkirkan batu ginjal.
Untuk menjadikan srigunggu sebagai obat, diperlukan lima lembar daunnya. Daun tersebut direbus dengan empat gelas minum hingga volumenya tinggal 3/4-nya atau tiga gelas minum. Air rebusan inilah yang dijadikan obat. Setiap kali meminumnya, diperlukan 3/4 gelas. Ini dilakukan tiga kali dalam sehari.

Yang tak kalah galaknya dalam mengusir batu ginjal adalah daun keci beling. Nama yang lebih dikenal oleh oleh orang Jawa. Namun, bila menyebut nama itu, tanaman yang dimaksud sebenarnya lebih dari satu yang sama-sama memiliki khasiat menyingkirkan batu ginjal. Yakni, Hemigraphis colorata Hall. yang memiliki nama lain sambang getih, Strobilanthes crispus BL atau Sericocalys crispus Bremek yang dikenal sebagai keci beling IV, dan Ruellia napifera Zall. atau keci beling III yang sering pula dijuluki sebagai tanaman gempur watu.

Sambang getih merupakan terna yang tumbuh liar dengan batang rebah. Biasanya ditanam di pinggir kebun. Daun tanaman ini mengandung kalium dengan kadar tinggi. Keci beling IV sejenis tumbuhan belukar yang kebanyakan tumbuh liar. Bagian yang digunakan obat batu ginjal adalah daunnya yang memiliki kadar kalium tinggi. Dalam 100 mg daun segar bisa diperoleh 322 mg kalium. Sedangkan informasi tentang gempur batu hampir tidak ditemukan selain bahwa daun tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati kencing batu.
Untuk menyingkirkan batu ginjal dengan menggunakan daun sambang getih diperlukan 30 lembar. Semuanya direbus dengan dua gelas minum air hingga mendidih beberapa menit. Air hasil rebusan ini diminum sekaligus.

Bila menggunakan daun keci beling IV diperlukan delapan lembar atau dengan bobot 25 g. Potong-potong daun tersebut lalu direbus dengan tiga gelas minum air hingga tinggal 3/4 bagiannya. Setelah disaring, tambahkan madu secukupnya. Air rebusan tadi dibagi menjadi tiga bagian masing-masing diminum untuk pagi, siang, dan malam hari.
Sedangkan bila hendak memilih daun gempur watu sebagai obat, ada dua cara yang bisa dipilih. Pertama, diperlukan 10 lembar daun gempur watu segar. Daun tersebut diolah seperti mengolah daun keci beling IV. Begitu pula dengan dosisnya. Pada cara kedua diperlukan 15 g daun segar. Daun direbus dengan dua gelas minum hingga mendidih. Air rebusan tadi dikonsumsi untuk dua kali, masing-masing satu gelas.

Dalam keadaan krisis ekonomi, obat-obat alternatif seperti ini memang tidak ada salahnya dicoba. Di samping murah, khasiatnya juga sudah dirasakan sejak lama meskipun penelitian ilmiahnya masih sangat terbatas.
Bagaimana pun juga pencegahan munculnya batu di dalam ginjal lebih penting. Cara yang termudah adalah dengan minum air yang cukup banyak. Dengan demikian garam-garam pembentuk batu ginjal bisa terencerkan dan tidak terjadi pengendapan. Kalau pun sudah terbentuk dengan ukuran renik, garam tersebut bisa terbawa bersama urine. Mudah-mudahan. (*/B. Dzulkarnain)

Sumber: http://www.indomedia.com/intisari/1998/mei/ginjal.htm

Read More.....

Rabu, 09 April 2008

Jangan Sakit Ginjal di Indonesia

Oleh Djoko Santoso

Hari ini, 13 Maret 2008, diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia. Sebagaimana kita ketahui, ginjal termasuk salah satu organ vital yang dimiliki manusia. Ada tujuh fungsi utama ginjal. Di antaranya, mengeluarkan air, racun, dan bahan yang tidak berguna serta berfungsi sebagai buffer (menetralkan kelebihan asam), mengontrol tekanan darah, membuat tubuh tidak kurang darah, serta untuk kesehatan tulang.

Karena itu, jika terjadi kegagalan pada fungsi organ ginjal, akibatnya pun bisa fatal. Itulah yang terjadi pada mantan Presiden Soeharto sebelum meninggal.
Pertanyaan yang relevan dilontarkan adalah, sudahkah kita peduli terhadap kesehatan ginjal kita? Sudah cukup layakkah pemerintah memperlakukan para pasien yang menderita gangguan ginjal, terutama mereka yang tergolong miskin?

Berdasar data yang masuk di salah satu rumah sakit di Surabaya, penderita gangguan ginjal sering datang dalam kondisi sudah terlambat, sehingga harus dilakukan cuci darah secara reguler.
Bahkan, dalam beberapa kasus, gangguan ginjal sudah merembet ke gangguan lain. Misalnya, terjadinya penyakit jantung, stroke, problem kurang darah, hingga badannya menjadi rusak akibat malnutrisi. Secara medis, NKF KDOQI membagi gangguan ginjal kronis -mulai yang paling ringan hingga paling berat- menjadi lima tahap. Tahap pertama paling ringan dan tahap kelima paling berat.

Secara berturutan, tata laksana untuk gangguan ginjal kronik tahap satu membutuhkan upaya diagnosis dan pengobatan komorbid, memperlambat progresivitas, serta menurunkan risiko kardiovaskuler. Tahap dua membutuhkan tata laksana untuk progresivitas yang terjadi. Tahap tiga untuk evaluasi dan pengobatan komplikasi yang terjadi.
Pada gangguan ginjal kronis tahap empat, mulai dilakukan persiapan untuk terapi pengganti (replacement) ginjal, selain tersebut di atas. Pada tahap lima, diperlukan terapi pengganti ginjal (termasuk cuci darah dan cangkok ginjal) untuk mengatasi komplikasi yang terjadi.

Di negara maju, angka penderita gangguan ginjal tergolong cukup tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, angka kejadian gagal ginjal meningkat tajam dalam 10 tahun. Pada 1990, terjadi 166 ribu kasus GGT (gagal ginjal tahap akhir) dan pada 2000 menjadi 372 ribu kasus. Angka tersebut diperkirakan terus naik. Pada 2010, jumlahnya diestimasi lebih dari 650 ribu.
Selain data tersebut, 6 juta-20 juta individu di AS diperkirakan mengalami GGK (gagal ginjal kronis) fase awal. Dan itu cenderung berlanjut tanpa berhenti.
Dengan demikian, pihak penyedia jasa asuransi kelak akan menanggung biaya-biaya pasien cuci darah yang diperkirakan mencapai USD 28,3 miliar (per tahun). Meski angka kejadian terhadap gangguan ginjal tergolong tinggi, tidak terlalu berdampak pada kematian.

Di AS, semua warga negara berhak atas terapi pengganti ginjal ketika menderita GGT melalui asuransi penggantian program kesehatan. Dengan fasilitas tersebut, penderita GGT di AS akan bisa mendapatkan perawatan secara maksimal, sehingga memungkinkan bisa hidup lebih lama.
Hal yang sama terjadi di Jepang. Di Negeri Sakura itu, pada akhir 1996, ada 167 ribu penderita yang menerima terapi pengganti ginjal. Menurut data 2000, terjadi peningkatan menjadi lebih dari 200 ribu penderita. Berkat fasilitas yang tersedia dan berkat kepedulian pemerintah yang sangat tinggi, usia harapan hidup pasien dengan GGT di Jepang bisa bertahan hingga bertahun-tahun.
Bahkan, dalam beberapa kasus, pasien bisa bertahan hingga umur lebih dari 80 tahun. Angka kematian akibat GGT pun bisa ditekan menjadi 10 per 1.000 penderita. Hal tersebut sangat tidak mengejutkan karena para penderita di Jepang mendapatkan pelayanan cuci darah yang baik serta memadai.

Dari aspek ekonomi, terdapat hubungan antara pendapatan per kapita dengan jumlah penderita GGT yang harus cuci darah (Jacob, 1981). Untuk negara dengan gross national product (GNP) < USD 2.700 dolar per tahun, akan sulit menutupi biaya cuci darah.
Kita ketahui, 2/3 penduduk dunia berada di negara berkembang dengan GNP per kapita < USD 2.700 per tahun, termasuk Indonesia. Jika di AS, untuk biaya cuci darah bagi penderita gagal ginjal menghabiskan USD 60 ribu per penderita per tahun, sanggupkah itu dilakukan secara optimal di negara berkembang? Sebagai gambaran, di negara Afrika, insiden GGK ditaksir 3-4 kali lipat negara maju. Angka kematiannya diperkirakan mencapai 200 kejadian per juta penduduk. Kejadian baru 34-200 per juta populasi Afrika Selatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di AS dan Jepang, penderita ginjal sangat ditopang lembaga kesehatan nonpemerintah yang punya kemampuan finansial cukup. Di Indonesia, baru pada 2005 penderita GGT ditanggung negara melalui program askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin). Dan itu pun sangat jauh dari standar ideal. Hanya sedikit faktor pendukung kualitas hidup bagi penderita.

Berdasar pengalaman saya, permasalahan inadequacy (suatu istilah untuk menggambarkan bahwa kondisi penderita masih mengalami keracunan karena tindakan dialisis tindak standar) menjadi sangat umum. Akibatnya, pasien sering menghadapi kemungkinan terburuk, sehingga umurnya diperkirakan bertahan dalam hitungan hari atau minggu.
Selama pasien berada pada kondisi tersebut, keadaannya akan terancam, bahkan bisa sampai pada kematian. Penyebabnya sedikitnya ada empat: kelebihan cairan, kelebihan kalium, kelebihan asam organik, serta kekurangan gizi. Khusus pasien miskin bakal mempunyai banyak comorbidas (penyulit). Sebab, mereka sedikit mempunyai akses kesehatan. Yang sering terjadi, ketika harus opname, mereka sudah dalam keadaan sangat terlambat untuk ditolong. Ketika harus melakukan cuci darah, mereka pun tak mampu membayar dan negara masih sangat terbatas dalam memberikan bantuan.
Dengan demikian, itu bisa menjadi penyumbang terbesar untuk kematian akibat GGK, sehingga penyakit GGK pada 1997 berada di posisi kedelapan. Data terbaru dari US NCHS 2007 menunjukkan, penyakit ginjal masih menduduki peringkat 10 besar sebagai penyebab kematian terbanyak.

Faktor penyulit lainnya di Indonesia bagi pasien ginjal, terutama GGK, adalah terbatasnya dokter spesialis ginjal. Sampai saat ini, jumlah ahli ginjal di Indonesia tak lebih dari 80 orang. Itu pun sebagian besar hanya terdapat di kota-kota besar yang memiliki fakultas kedokteran.
Maka, tidaklah mengherankan jika dalam pengobatan kerap faktor penyulit GGK terabaikan. Melihat situasi yang banyak terbatas itu, tiada lain yang harus kita lakukan, kecuali menjaga kesehatan ginjal.
Jadi, alangkah lebih baiknya kita jangan sampai sakit ginjal. Mari memulai pola hidup sehat. Di antaranya, berlatih fisik secara rutin, berhenti merokok, periksa kadar kolesterol, jagalah berat badan, periksa fisik tiap tahun, makan dengan komposisi berimbang, turunkan tekanan darah, serta kurangi makan garam. Pertahankan kadar gula darah yang normal bila menderita diabetes, hindari memakai obat antinyeri nonsteroid, makan protein dalam jumlah sedang, mengurangi minum jamu-jamuan, dan menghindari minuman beralkohol. Minum air putih yang cukup (dalam sehari 2-2,5 liter).
Juga, jangan terlalu sering menyantap fast food yang bisa mempermudah munculnya penyakit darah tinggi dan kencing manis. Ingat, dua penyakit itu memberikan kontribusi besar pada gagal ginjal.

dr Djoko Santoso SpPD K-GH PhD, ahli ginjal di Surabaya; menyelesaikan program PhD di Juntendo University, Tokyo, Japan
Dari :www.antiloans.org
http://agguss.wordpress.com/2008/03/13/jangan-sakit-ginjal-di-indonesia/

Read More.....